Kegiatan Pertama Taman Baca Lamotena

Video Kegiatan Pertama di Taman Baca Lamotena

Setelah melewati proses yang panjang pembangunan taman baca/perpustakaan di SMP N Lamotena bisa selesai. Saya merasakan kegembiraan yang dialami oleh siswa-siswi karena akhirnya bisa membaca buku di perpus yang mereka bangun sendiri .

Mengangkut pasir mengumpulkan batu bahkan menembok dan membuat dinding mereka kerjakan demi bisa membaca buku. Namun demikain tidak semua siswa yang bekerja bersusah payah membangun perpus ini sempat menikmati hasil kerja keras mereka. Siswa-siswa kelas IX angkatan 2019/2020 tidak sempat menggunakan fasilitas perpus ini karena mereka sudah lulus sebelum perpus ini selesai. Namun demikain anak-anak alumni ini tetap senang dan bersyukur karena perjuangan mereka tidak akan sia-sia. Mereka berpikir toh perpus ini juga berguna sekali untuk adik-adik mereka yang bersekolah di SMP ini. Mereka pun berkata sesekali akan datang berkunjung ketika ada waktu libur.

Hari ini adalah hari pertama kami melakukan kegiatan di perpus ini. Siswa-siswi ingin mengekspresikan rasa syukur dan bahagia mereka atas selesainya perpus ini yang dituangkan ke dalam sebuah poster. Dengan semangat mereka berkreasi dan menumpahkan isi hati mereka dalam tulisan maupun gambar yang berwarna-warni. Dalam poster tersebut anak-anak juga mengungkapkan rasa terimkasih kepada donatur yang sudah membantu mewujudkan pembangunan perpus ini. Terkhusus kepada Ibu Krisna dari Linguahub Bali dan Bapak Tom yang sempat sampai di Alor dan bertemu dengan siswa dan guru di SMP N Lamotena ini.

Di hari pertama ini juga kami dikunjungi oleh salah satu sahabat guru yang mengajar di SMK N Maritaing. Ia adalah Bapak Munji Hardani. Pak Munji juga ikut senang karena perpus kami sudah selesai. Saya sebagai guru dan kepala sekolah sangat bersyukur dan bergembira karena pada akhirnya sekolah kami yang terletak di daerah terpencil ini memiliki perpus walaupun kecil namun nyaman dan memiliki koleksi buku yang cukup menarik.

Kami ucapkan terimkasih kepada semua donatur yang tak bisa kami sebutkan satu per satu atas bantuan dan motivasi yang telah diberikan kepada kami. Namun perjuangan ini belum selesai sampai disini karena ini adalah awal sebab kedepannya kita harus terus menumbuhkan budaya membaca sehingga kemampuan literasi baik siswa maupun guru di sekolah ini bisa meningkat. Selain itu kami masih terus berjuang untuk meningkatkan jumlah dan kualitas koleksi buku yang sesuai untuk anak-anak dan juga guru.

Proses Melukis Mural Tahap Akhir

Pentingnya Budaya Gemar Membaca untuk Meningkatkan Kemampuan Literasi Siswa

Literasi sangat penting bagi siswa terlebih di abad yang serba digital ini. Itulah mengapa untuk mengetahui tingkat prestasi siswa dilakukan tes PISA yang mana salah satu aspek yang dinilai adalah literasi.

Namun saya merasa kemampuan literasi siswa Indonesia pada umumnya masih sangat rendah terbukti dari hasil Survei PISA 2018, Indonesia berada di peringkat ke-74 dari 79 Negara. Kondisi ini lebih parah lagi untuk siswa yang berada di daerah terpencil seperti tempat saya mengajar sekarang (SMP N Lamotena Karangle).

Bahkan lebih parah lagi banyak ditemukan siswa tingkat SMP belum lancar membaca. Hal ini bisa dimaklumi karena kondisi dan fasilitas sekolah yang terbatas. Banyak sekolah di daerah terpencil belum memiliki perpustakaan. Walaupun ada bukuya sangat minim, lebih banyak buku-buku teks pelajaran yang kurang menarik bagi siswa.

Untuk melatih siswa membaca perlu memberikan buku yang tepat sesuai dengan level membaca dan juga minat siswa. Guru tak bisa hanya menyuruh siswa membaca sementara buku yang dibaca tidak menarik sama sekali bagi mereka. Untuk itu perlu pengadaan buku-buku yang sesuai untuk siswa. Lebih lanjut guru perlu memberikan keteladanan dalam membaca yang baik. Guru juga harus gemar membaca jika ingin muridnya juga suska membaca.

Melihat kondisi ini saya sebagi pengajar dan sekaligus kepala sekolah berusaha membantu siswa dan guru di sekolah saya untuk memiliki sebuah “Taman Baca” yang layak. Layak disini maksudnya memiliki koleksi buku yang edukatif dan juga menarik bagi siswa dan juga guru selain itu ruangannya juga nyaman dan menginspirasi/memotivasi siswa membaca.

Dengan dukungan dari Linguahub Bali saya dan komunitas sekolah (siswa, guru dan orang tua siswa) berusaha membangun perpus sederhana secara swadaya. Project ini dimulai tahun 2019 dan saat ini sudah di tahap akhir yaitu proses pembuatan Mural pada dinding perpus.

Saat ini kami juga sedang mengumpulkan buku-buku yang sesuai untuk taman baca ini. Pengadaan buku juga disuport oleh para donatur yang digagas oleh Linguahub Bali. Kami ucapkan terimakasih banyak kepada para donatur yang sudah berkontribusi baik berupa sumbagan dana maupun buku.

Dengan dibangunnya taman baca sederhana ini diharapkan bisa meningkatkan kegemaran siswa membaca. Dengan ruang perpus yang menarik dan koleksi buku yang sesuai dengan latar belakang, kemampuan/level membaca dan minat siswa saya optimis anak-anak akan senang membaca sehingga kemampuan literasi mereka akan meningkat.

Kisah Lubdaka

Di suatu desa kecil di pinggir hutan hiduplah seorang pemburu bernama Lubdaka. Lubdaka hidup berkecukupan bersma anak dan istrinya. Ia selalu berhasil membawa pulang hewan buruan. Hasil buruan itulah ia akan tukar dengan kebutuhan sehari-hari mereka.

Lubdaka sendiri sangat menikmati pekerjaannya sebagai seorang pemburu. Ia adalah pemburu yang rajin dan tangkas. Baginya berburu adalah swadarma yang harus ia lakukan untuk menghidupi keluarga yang ia cintai.

Karena ktangkasannya dalam berburu, sangat jarang binatang buruannya lepas dari anak panahnya. Tak terhitung sudah binatang yang ia bunuh. Berbagai jenis binatang baik kecil maupun pernah dibunuhnya.

Suatu hari seperti biasa ia pergi berburu ke hutan. Tanpa ada firasat apapun ia masuk ke dalam rimba yang lebat. Namun ada sedikit perbedaan ia rasakan, tak seperti hari-hari sebelumnya hutan nampak begitu sepi. Bahkan kicauan burung pun ia tidak dengar.

Bahkan sampai matahari berada tepat di atas kepala pun Lubdaka belum menemui seekor binatang buruan pun. Lalu ia pun memutuskan untuk beristiharat sejenak di bawah pohon besar untuk berlindung dari teriknya matahari.

Setelah merasa cukup beristirahat ia pun melanjutkan perbuaruan. Setelah berjalan beberapa lam ia melihat seekor rusa sedang merumput. Dengan hati-hati ia mengintai rusa itu dan memastikan posisinya tidak tercium oleh rusa itu. Tanpa berpikir panjang lagi Lubdaka melepaskan anak panahnya. Namun sayang bidikannya meleset dan rusa pun lari secepat kilat.

Lubdaka berusaha mengejar rusa itu namun sepertinya ia kehilangan jejaknya. Lubdaka terus mengejar sampai masuk ke dalam rimba paling dalam. Tak terasa matahari pun sudah mulai tenggelam dan hari menjadi gelap.

Lubdaka sadar ia berada dalam kondisi yang sulit. Tidak mungkin ia kembali pulang karena terlalu berbahaya lagi pula tak mungkin ia pulang dengan tangan kosong. Akhirnya ia memutuskan untuk bermalam di hutan itu. Ia berusaha mencari tempat yang aman untuk bermalam. Lalu ia memutuskan untuk naik ke atas pohon besar yang ada dipinggir telaga.

Baru kali ini Lubdaka berada dalam kondisi seperti ini. Ia pun mulai takut dan khawatir. Ia takut jika binatang buas tiba-tiba datang dan menerkamnya. Jika ia mati diterkam binatang buas maka anak dan istrinya akan sangat sedih. Ia pikir berada di atas pohon akan membuatnya aman dari ancaman binatang buas. Setelah ia berada di atas pohon ia berusaha untuk tetap terjaga agar ia tidak terjatuh. Agar tetap terjaga Lubdaka memetik daun-daun yang bisa ia jangkau dan menjatuhkannya ke bawah.

Saat ia memetik pohon itu ia pun kembali memikirkan rasa takutnya. Ia berpkir mungkin selama ini binatang-binatang yang dia buru juga merasakan hal yang sama. Merasa takut dan teracam jiwanya. Setelah itu ia pun mulai berpikir bagaimana kalau ia berada dalam posisi binatang buruan itu. Pasti sangat menderita diburu dan dibunuh.

Malam semakin larut dan gelap, Lubdaka terus merenungi semua perbuatannya membunuh begitu banyak binatang. Ia mulai ragu apakah cara hidupnya selama ini benar atau tidak. Sambil terus memetik daun dan menjatuhkannya ke bawah ia akhrinya memutuskan bahwa apa yang ia lakukan selama ini tidaklah baik. Ia berjanji pada dirinya sendiri jika hari ini ia bisa pulang dengan selamat maka ia tak akan menjadi pemburu lagi.

Tak lama kemudian matahari pun mulai muncul di ufuk timur. Lubdaka akhirnya hari itu selamat dari maut dan bisa pulang dengan selamat. Sampai di rumah Lubdaka menceritakan apa yang ia alami semalam. Dan ia memberi tahu anak dan istrinya mulai hari itu ia akan berhenti berburu dan akan menjadi petani.

Selanjutnya Lubdaka melanjutkan hidupnya dengan menjadi petani yang rajin dan ulet. Istrinya pun tetap mendukung pekerjaan baru suaminya. Menjadi petani membuat Lubdaka mempunyai waktu lebih banyak bersama keluarganya. Setelah beberapa tahun menjadi petani Lubdaka jatuh sakit. Istrinya berusaha memberikan perawatan yang terbaik dan beberapa tabib kampung pun sudah datang untuk mengobati namun sakitnya tak kunjung sembuh. Dan akhirnya Lubdaka meninggal dunia.

Setelah meninggal roh lubdaka melayang-layang di dunia akhirat. Saat itu juga tiba-tiba datang Sang Cikrabala. Cikrabala adalah utusan Dewa Yama untuk menjemput para roh untuk diadili. Di tengah perjalanan tiba-tiba datang dua utusan Dewa Siwa untuk menjemput roh Lubdaka. Dua utusan itu diperintahkan untuk membawa Lubdaka ke Siwaloka. Sang Cikrabala tidak mau menyerahkan Roh Lubdaka karena Lubdaka adalah roh berdosa yang harus dibawa ke Nerakaloka. Karena tidak ada yang mengalah maka pertarungan untuk memperebutkan roh Lubdaka pun terjadi.

Dewa Yama kemudia datang dan menghentikan pertempuran itu. Saat itu pula datang juga Dewa Siwa dan menjelaskan bahwa Lubdaka sudah mendapatkan anugrah dari dirinya karena telah melakukan Tapa brata di malam malam siwalatri yaitu malam sasih kapitu. yaitu mona brata (tak bicara), Upawasa 9tidak makan-minum) dan Jagra (tidak tidur). Lalu lubdaka telah menyadari semua dosa yang ia lakukan dan memutuskan untuk berhenti menjadi pemburu. Maka dari itu aku memberikan dia anugrah pengampunan kepadanya. Dan mulai saat ini setiap manusia yang mampu melakukan tapa brata saat malam siwalatri akan mendapatkan anugrah pengampunan dari ku.

Setelah Dewa siswa memberikan penjelasan akhirnya Dewa Yama dan Cikrabala menyerahkan roh Lubdaka. Lubdaka pun kemudian diantar ke Siwaloka.

Pembatik level 3

Hai sahabat kali ini saya ingin berbagi pengalaman ikut bimtek daring Pembatik 2020. Setelah sebelumnya saya membuat vlog untuk tugas pembatik level 2 sekarang saya belajar mengembangkan media pembelajaran berupa multimedia interaktif menggunakan sooftware articulate stroyline.

Walupun sebelumnya saya sudah pernah membuat media pembelajaran berupa media interaktif namun software yang biasanya saya gunakan adalah adobe flash. Namun dalam pembatik ini memperkenalkan articulate stroyline sebagai softwarenya. Jadi saya harus mempelajari software ini dari awal.

Awalnya agak sulit tetapi setelah menonton video dan membaca modul yang ada di dalam bimtek saya mulai mengerti dan mencoba langsung pengembangan media interaktif ini. Secara keseluruhan sebenarnya memakai articulate stroryline lebih simpel dari pada menggunakan flash. Karena dalam articulate Storyline tidak ada coding sama sekali. Software ini lebih mirip Ms Power Point.

Untitled-2 copy

 

Berikut adalah link hasil dari latihan saya membuat media pembelajaran interaktif Bahasa Inggris untuk SMP .

media 1: Narrative Text

https://bit.ly/2XseP35

 

media 2: Procedure Text

https://bit.ly/2CdjjmM

 

Semoga bermanfaat. Bagi bapak/ibu guru yang sedang ikut pembatik 2020 tetap semangat!

Leluhur Para Pandawa dan Kurawa, Kisah Kelahiran Raja Bharata

Pada suatu hari raja Dushmanta pergi berburu ke hutan bersama para pengawalnya. Setelah puas mengejar hewan buruan sang raja melanjutkan perjalanan kembali pulang ke istana. Di perjalanan raja merasa sangat kehausan sementara persediaan air yang mereka bawa sudah habis. Saat itulah ia melihat sebuah rumah di tepi hutan. Kata penduduk yang tinggal di sekitar sana rumah itu adalah kediaman Rsi Kanwa yang termashur.

Lalu raja Dushmanta memutuskan untuk mengunjungi Rsi Kanwa. Kediaman Rsi Kanwa dihiasi oleh taman-taman Bunga yang sangat indah. Saat Raja memasuki halaman rumah itu Raja bertemu dengan seorang gadis cantik yang sedang menyirami bunga-bunga. Raja langsung jatuh cinta dengan gadis itu.

Siapa kah namamu wahai gadis jelita? Tanya sang raja. “Nama hamba Syakuntala putri dari Rsi Kanwa” jawab gadis itu. Setelah berbincang-bincang akhirnya Sang Raja memutuskan untuk menikahi Syakuntala. Namun Syakuntala menolak karena Ayahnya sedang tidak di rumah. Tapi Raja terus mendesak dan berkata bahwa setiap gadis dewasa bisa memutuskan sendiri nasibnya termasuk untuk urusan pernikahan dan itu tidak bertentangan dengan ajaran Dharma.

Mendengar itu Syakuntala berkata, “Bila itu memang cara yang dibenarkan oleh agama, dan bila sesungguhnya hamba berhak memutuskan untuk diri hamba sendiri, dengarkanlah wahai pria utama keturunan bangsa Puru, ada syarat-syarat yang harus Paduka penuhi!

Berjanjilah bahwa apa pun yang hamba pinta akan Paduka kabulkan. Anak laki-laki yang akan hamba lahirkan kelak harus menjadi putra mahkota. Itulah syarat hamba! Tanpa berpikir panjang Dushmanta langsung menyanggupi syarat dari Syakuntala dan mereka pun menikah.

Setelah tinggal beberapa hari bersama Syakuntala di pertapaan itu, akhirnya tiba waktunya raja harus kembali ke ibu kota kerajaan. Ia berjanji suatu hari akan melakukan upacara penjemputan yang layak untuk Syakuntala istrinya. Walaupun berat hati ditinggalkan sang suami, Sykuntala harus rela melepas kepergiannya.

Setelah Raja pergi, Resi Kanwa pun pulang ke pertapaannya. Syakuntala merasa malu dan tidak menyambut ayahnya seperti biasa. Dengan ketajaman pikirannya sang resi pun tahu apa yang terjadi. Karena kasihnya kepada putrinya beliau pun tak merasa marah dan merestui pernikahan putrinya dengan Raja Dushmanta.

Setelah beberapa bulan berlalu akhirnya Syakuntala hamil dan melahirkan seorang putra yang tampan. Syakuntala merasa bahagia karena keinginannya akan terpenuhi. Kelak putranya akan menjadi pewaris tahta ayahnya. Namun disisi lain ia juga merasa sedih karena sampai sekarang Dushmanta belum dating juga untuk menjemputnya.

Setelah mendapat nasehat dari ayahnya Syakuntala dan anaknya memutuskan untuk pergi ke istana raja Dushmanta. Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh akhirnya mereka tiba di istana kerajaaan. Saat itu raja Dushmanta sedang duduk bersama para pendeta, menteri dan perwira kerajaan. Sesampainya di sana bukanya di sambut oleh sang raja namun mereka malah ditolak. Walaupun Syakuntala sudah panjang lebar menjelaskan asal-usul dirinya dan anaknya tapi raja tak mau mengakui mereka.

Dengan sedih dan kecewa akhirnya Syakuntala pergi meninggalakan Dushmanta. Begitu Syakuntala dan anaknya pergi terdengarlah suara dari langit.

“Wahai Raja Dushmanta, terimalah mereka sebagai anak dan istrimu. Anakmu itulah yang akan menjadi penyelamatmu baik di dunia maupun di akhirat kelak. Tiada harta yang lebih berhargaselain istri yang setia dan anak yang suputra”

Kemudian suara dari kahyangan itu pun lenyap.

Stelah mendengar suara ajaib itu, Raja pun merasa lega dan berkata” Wahai rakyatku, kalian sendiri sudah mendengar sabda dari kahyangan itu! Sesungguhnya aku sudah menerima mereka sebagia anak dan istriku sejak awal. Namun jika aku langsung mengikuti kata-kata Syakuntala dan memungut dia sebagai anakkku begitu saja, krakyatku pasti curiga dan anakku dianggap anak haram.”

Akhirnya raja Dushmanta memerintahakan agar dibuatkan upacara khusus untuk menyambut permaisuri dan putra mahkota. Syakuntala merasa bahagia dan anaknya diberi nama Bharata yang kelak menjadi raja termashur dan  keturuannya menjadi bangsa yang snagat besar dan dihormati.

 

Referensi: Mahabharata oleh Nyoman S. Pendit

Perkembangan Pembangunan Taman Baca Lamotena

Pembangunan Taman Baca/Perpustakaan untuk SMP dan SD di desa Elok menggunakan dana crowd funding (donasi) yang di bantu oleh Ibu Krisna menjadi harapan pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak sekolah dan guru. Hal ini karena sekolah belum memliki fasilitas perpustakaan yang memadai sehingga siswa dan guru kesulitan mendapatkan pengetahuan. ‘

Buku dan perpustakaan ini juga menjadi harapan karena sekolah terletak di daerah terpencil yang belum terjamah oleh listrik dan jaringan komunikasi. Saat ini proses pembangunan taman baca ini sudah di tahap akhir. Walaupun banyak kendala namun saya optimis akan bisa terselesaikan di tahun ini.

 

Terimakasih kepada semua donatur yang sudah peduli dengan pendidikan di daerah terpencil. Donasi kakak-kakak semua pasti sangat berguna bagi kami di daerah terpencil.

Legenda Mayadenawa

Alkisah dahulu kala, di Pulau Dewata memimpin seorang Raja bernama Mayadenawa. Mayadenawa terkenal tekun melaksakan tapa dan juga rajin melatih ketangkasan tubuhnya. Karena ketekunanannya banyak dewata menganugrahkan berbagai senjata dan kesaktian kepadanya.

Dengan kesaktian yang dimilikinya Raja Mayadenawa dibantu oleh mahapatih Kala Wong berhasil menguasai banyak kerajaan lainnya di luar pulau dewata sperti Blambangan, Lombok, sumbawa bahkan sampai di Makasar dan Bugis.

Karena kesaktian dan kekuasaannya yang besar maka Raja Mayadenawa menjadi sombong dan serakah. Ia merasa menjadi raja yang paling sakti di seluruh muka bumi. Karena kesombongannya sampai-sampai ia melarang seluruh rakyatnya untuk menyembah para dewata atau pun Yang Maha Esa. Semua pura dan candi pemujaan dihancurkan oleh tentara kerajaan dan diganti dengan menyembah Sang Maharaja Mayadenawa.

Tak hanya itu rakyat pun dibebani dengan berbagai bentuk pajak yang sangat memberatkan. Rakyat menjadi sangat menderita. Empu Kul Putih sangat prihatin melihat penderitaan rakyat. Lalu beliau bersemdi di Pura Besakih dan memohon kepada Batara Guru agar memberikan pertolongan.

Dari swargaloka Batara guru menjawab doa Mpu Kul Putih. Batara Guru kemudian mengutus Bhatara Indra dan balatentaranya ke Marcapada untuk menumpas Mayadenawa. Namun kedatangan Bhtara Indra ternyata sudah di ketahui oleh Raja Mayadenawa. Mahapatih Kala Wong lalu diperintahkan untuk menyiapakan pasukan. Pertempuran pun tak bisa dihindarkan.

Walaupun Mayadenawa adalah raksasa yang sakti tapi pada akhirnya pasukan Bhatara Indra berhasil memenagkan pertempuran. Dengan sisa-sisa pasukannya Mayadenawa dan Patih Kala Wong melarikan diri. Saat malam tiba mereka meracuni aliran sungai yang mengalir di dekat perkemahan pasukan Bhatara Indra. Agar tidak meninggalkan jejak, ia berjalan mengendap dengan memiringkan telapak kakinya, sehingga daerah itu kemudian dikenal dengan nama Tampak Siring.

Keesokan harinya banyak Pasukan Bhatara Indra yang tewas karena meminum air sungai tersebut. Melihat kejadian ini, Bhatara Indra lalu menancapkan anak panahnya di tanah lalu munculah air dari tanah. Tempat ini sekarang disebut dengan Tirta Empul. Setelah diperciki dengan air (tirta) dari mata air itu akhirnya semua apsukan Bhatara Indra hidup kembali. Dan pengejaran terhadap Mayadenawa pun bisa dilanjutkan.

Selama pengejaran Mayadenawa dan Kala wong berubah wujud menjadi berbagai macam rupa untuk mengelabuhi Bhatara Indra. Pertama mereka berubah menjadi Manuk (ayam), dan daerah tersebut dinamakan Desa Manukaya. Bhatara Indra tak bisa ditipu dan terus mengejar. Mayadanawa mengubah dirinya menjadi Buah Timbul sehingga daerah itu dinamakan Desa Timbul , kemudian menjadi Busung (janur) sehingga daerah itu dinamakan Desa Blusung, kemudian menjadi Bidadari sehingga daerah itu dinamakan Desa Kadewatan dan terakhir menjadi Batu Paras (batu padas).

Batu padas tersebut dipanah oleh Bhatara Indra sehingga Mayadenawa dan patihnya tewas. Dan dari tubuh Mayadenawa mengalir sungai yang diberi nama sungai Petanu karena walupun sudah tewas arwah Mayadenawa masih bisa bersuara dan mengutuk aliranbsungai itu. ‘Wahai manusia, jika air sungai itu digunakan untuk mengairi sawah akan menjadi subur, tetapi ketika dipanen akan mengeluarkan darah dan berbau bangkai. Kutukan ini akan berlaku sampai 1000 tahun’ kata mayadenawa lirih.

Semenjak kejadian itu dunia pun kembali aman. Rakyat pun bisa kembali melakukan pemujaan pada dewa dan Idha Sang Hyang Widi Wasa.  Dan saat Mayadenawa menemui ajalnya diperingati sebagai perayaan Hari Raya Galungan, sebagai tongga kemenangan Dharma (kebaikan) melawan adharma (kejahatan).

Berikut Video Animasi 2d Kisah legenda Mayadenawa, selamat menyaksikan.

 

 

Demikianlah kisah legenda sang Raja Lalim; Mayadenawa yang akhirnya musnah ditangan Bhatara Indra. Semoga kisah ini bisa memberikan hiburan, inspirasi kepada para pembaca. Mohon maaf kalau ada kesalahan dalam penulisan cerita ini. Saran, kritik dan komentar dipersilahkan bagi yang ingin berdiskusi. Suksma, terimakasih.